Loading...

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Selamat Datang di Blog Muhammad Iwad

Kamis, 11 Februari 2016

Kemakmuran Dari Kehidupan Di Bawah Tanah

Kemakmuran Dari Kehidupan Di Bawah Tanah

Seperti puzzle besar, keping-keping penyusun kemakmuran itu menyebar di pemukaan bumi. Petunjuk untuk menyusun keping-keping tersebut tersedia lengkap bagi yang mau menggunakannya. Bagi yang tidak menggunakannya-pun tetap bisa menyusun keping-keping itu, tetapi manakala gambar besar dikiranya akan terbentuk – ternyata justru tidak menemukan keping yang dibutuhkan – sehingga harus merusak semua yang telah disusunnya. Seperti wanita yang memintal benang kemudian menguraikannya kembali (QS 16:92).

Perumpamaan tersebut sungguh terjadi di perbagai urusan kehidupan ini, namun yang ingin saya contohkan dengan sangat jelas adalah apa yang terjadi di dunia pertanian.

Ketika manusia menemukan pupuk, maka dikiranya pupuk inilah penyelamat produksi bahan pangan di dunia. Tidak sampai satu abad kemudian, dunia tersadar dampak dari pupuk-pupuk kimia yang ditebarkan di lahan pertanian. Bukannya memperbaiki lahan, malah merusak lahan dalam jangka panjang.

Lalu manusia yang merasa dirinya lebih cerdas dari Sang Khalik-pun merekayasa ciptaanNya dengan apa yang disebut Genetic Engineering. Alih-alih berhasil membuat produk bahan pangan yang lebih baik dan lebih banyak, eh malah menimbulkan ancaman kesehatan yang sangat serius dari produk yang mereka hasilkan dengan nama keren Genetically Modified Organism (GMO).

Maka untuk menyusun puzzle besar kemakmuran dan kecukupan pangan itu tidak bisa tidak harus menggunakan petunjukNya. Dalam sekitar 6000-an ayat saja Allah memberikan jawaban untuk semua persoalan (QS 16:89) itu :

…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk sertarahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS 16:89).

Salah satu hikmahNya petunjuk itu hanya dalam satu kitab yang ayatnya hanya 6,000-an adalah menjadi mudah diingat, mudah dicari, mudah diindex – dan semua ayat, kata maupun huruf tersusun sangat rapi, diberi penjelasan terperinci dari Dia yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti, perhatikan kalimatNya berikut :

Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti” (QS 11:1).

Nah sekarang bagaimana kalau kita coba mencari dari 6,000-an ayat tersebut, mana yang bisa kita susun untuk menjawab persoalan kemakmuran di muka bumi itu ? Ini bukan pencarian jarum di tumpukan jerami, ini mencari sejumlah ayat dari file yang ukurannya tidak lebih dari 1 Megabyte – insyaAllah dimudahkanNya.

Pertama Allah janjikan keberkahan itu datang dari langit dan dari bumi bila penduduk bumi beriman dan bertakwa (QS 7:96). Salah satu Iman itu ya mengimani kebenaran Al-Qur’an itu sendiri, jadi ketika mencari di Al-Qur’an – yakinlah janji Allah bahwa Dia akan beri jawaban untuk semua persoalan itu. Lebih dari itu kita juga harus bertakwa yang salah satu definisinya adalah menggunakan Al-Qur’an sebagai Huda (petunjuk) dan mauidhah atau nasihat (QS 3:138).

Lalu Allah janjikan, bila kita mengikuti petunjuk itu – kita akan diberi rezeki atau makanan dari langit dan dari bawah kaki kita.

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al Qur'an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka…” (QS 5:66)

Apa yang ada dibawah kaki kita ? Tanah !, apa yang ada di dalam tanah ? berikut petunjukNya lagi :

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (QS 20:6)

Banyak bahasan sudah tentang apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tetapi ayat ini spesifik menyebut “…semua yang dibawah tanah…”, apa itu ? Inilah salah satu mu’jizat Al-Qur’an yang dibahas oleh Dr. Zagloul An-Najjar.

Kerika Al-Qur’an itu diturunkan, manusia belum mengenal bakteri dan sejenisnya – tetapi Allah sudah menyebut sesuatu di bawah tanah. Kini manusia mengenal bakteri dan bahkan bisa mendekati perhitungannya. Data yang saya peroleh dari para ilmuwan di Colorado State University, secangkir tanah yang hidup – tidak dirusak manusia, ternyata mengandung lebih banyak populasi kehidupan dibandingkan yang hidup di seluruh permukaan bumi !

Dalam secangkir tanah tersebut mengandung setidaknya 200 milyar bakteri, 20 juta protozoa,100,000 meter jamur (kalau disambung), 100,000 nematoda dan 50,000 Anthropoda.  Kehidupan mikro yang ada di bawah tanah inilah yang menjadi sarana untuk kesuburan di muka bumi itu.

Allah kadang menyebut ada bumi yang mati (QS 36:33), maka kehidupan mikro tersebut yang tidak ada. Sehingga tanaman juga tidak tumbuh, tetapi Allah juga memberi solusi – untuk yang mati inipun dihidupkannya dengan biji-bijian yang dimakan.

Biji-bijian ini adalah jenis kacang-kacangan atau Legume, yang perakarannya mengundang microorganism tertentu yang membantu fiksasi nitrogen langsung dari udara. Setelah itulah aneka ragam makhluk mikro lainnya berdatangan meramikan kehidupan tanah yang semula mati.

Jadi solusi kemakmuran atau dalam hal ini kecukupan pangan itu bukan pada pupuk kimia, bukan pada Genetic Engineering yang menghasilkan tanaman GMO, tetapi pada kehidupan yang ada di dalam tanah itu sendiri.

Lantas bagaimana kehidupan dalam tanah itu kita jaga ? pertama ya jangan diusik tanah yang alami, jadi kalau mau menanam jangan merusak (kehidupan ) tanah. Istilahnya minimum atau no-tilting – pengolahan minimum atau tanpa pengolahan.

Bagaimana dengan tanah yang terlanjur rusak ? ya kita hadirkan kembali dengan mengundang kehidupan mikro di tanah tersebut. Prosesnya disebut pengomposan dari materi organik,  dengan menggunakan udara (aerobic) maupun tanpa udara (anaerobic).


Dari proses pengkomposan ini akan lahir empat jenis tanah, tiga bermanfaat dan yang satu bisa merusak. Yang bermanfaat terdiri dari  Disease-Suppressive Soil – tanah yang akan melawan penyakit,  Zymogenic Soil – yaitu tanah yang dipenuhi kehidupan mikro yang dapat mengurai molekul-molekul kompleks menjadi senyawa organic sederhana yang mudah diserap tanaman, dan Synthetic Soils yaitu tanah yang mengandung microorganism yang membatu fiksasi dan sysnthesa nitrogen dan CO2 menjadi molekul-molekul asam amino, protein dan karbohidrat.

Yang bisa merusak adalah jenis tanah Disease-Inducing Soils yaitu tanah yang mengandung mikroorganisme pathogen – pembawa penyakit. Yang merusak ini jumlahnya sedikit – berkisar dari 1/20 sampai 1/5 dari mikroorganisme yang ada.

Hanya Allah Yang Maha Tahu mengapa yang ini juga disediakan di dalam tanah, pemahaman saya yang inipun mestinya juga bermanfaat – minimal untuk sparring partner – latihan perang-perangan bagi seluruh mikroorganisme yang ada – sehingga ketika musuh perusak benar-benar datang – mikroorganisme yang sangat banyak tersebut terlatih untuk mengatasinya. Kita tahu seperti apa tentara kalau tidak pernah berlatih ? ketika perang benar-benar datang dia tidak akan siap.

Walhasil itulah kehidupan sempurna di dalam tanah di bawah kaki kita, asal kita tidak merusaknya maka bumi ini akan subur dan mendatangkan kemakmuran. Maka ada larangan agar manusia itu tidak merusak kesimbangan yang ada di alam  ( QS 55 :8). Lebih dari itu kita juga diperintahkan untuk menegakkan kembali kesimbangan itu – bila terlanjur rusak (QS 55:9).

Karena sudah berpuluh tahun sejak negeri ini merdeka – cara bertani kita dengan merusak keseimbangan alam tersebut – yang gejalanya dapat dilihat dari produktifitas lahan kita yang terus menurun, di bumi yang seharusnya subur ini malah kita harus mengimpor begitu banyak bahan pangan – maka kini waktunya untuk membuat perbaikan yang kita mampu, ya melalui kegiatan menegakkan kembali keseimbangan tersebut.

Maka itulah visi besar yang kita ingin mulai bersama melalui Workshop 2 hari di bulan depan  yang mengambil tema Integrated Organic Farming – kita akan mentadaburi ayat-ayat kehidupan di bawah tanah tersebut – sampai menjadi action plan, yang bahkan akan bisa melahirkan profesi baru, yang berarti juga jalan baru untuk membangun kemakmuran. InsyaAllah.

What To Do Ketika Rupiah Melemah ?

What To Do Ketika Rupiah Melemah ?

Kalau saya katakan Rupiah sekarang kinerjanya lebih buruk dari Rupiah di puncak krisis 1997-1998 mungkin Anda tidak percaya, bagaimana kalau saya sajikan data yang konkrit untuk ini ? Anda Percaya ? Memang di puncak krisis yang kemudian mengawali era reformasi, Rupiah sempat berada di Rp 16,097/US$ tetapi itu hanya kejadian sehari (17/6/1998) – kemudian hebatnya pemerintahan transisi waktu itu – berhasil menurunkannya menjadi kurang dari separuhnya dalam tempo enam bulan saja, yaitu ke Rp 7,979/US$ pada penutup tahun 1998. Apa yang terjadi di Rupiah sekarang ?

Datanya yang saya ambilkan dari Pacific Exchange Rate Services ini akan terlalu panjang apabila saya sajikan data harian selama 17 tahun terakhir sejak awal reformasi, maka saya sajikan data rata-rata bulanannya saja. Hasilnya akan seperti pada grafik pertama disamping. Selama 17 tahun terakhir memang rata-rata bulanan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar berfluktuasi, tetapi sejak 2011 hingga kini rata-rata bulanan itu secara terus menerus memburuk.

Bisa dilihat lebih jelas lagi kalau saya fokuskan di empat tahun terakhir sejak pertengahan 2011 hingga kini seperti grafik yang kedua. Maka kita tahu bahwa sepanjang empat tahun terakhir rata-rata bulanan nilai tukar Rupiah terhadap US$ secara persisten terus memburuk.

Bahwa bisa saya katakan Rupiah sekarang lebih buruk dari puncak krisis 1997-1998 akan Nampak jelas bila ditarik data rata-rata bergerak tahunan seperti pada grafik yang ke 3. Rata-rata bergerak tahunan terburuk di puncak krisis 17 tahun lalu itu, Rupiah masih berada di kisaran angka Rp 9,000/US$. Rata-rata bergerak tahunan itu kini sudah berada di kisaran angka Rp 12,550/US$ atau mengalami penurunan nilai sampai 39 %.

Salah siapa ini ? yang gampang salahkan saja Dollar yang terlalu perkasa. Dan ini tidak sepenuhnya asal  menyalahkan  karena memang bukan hanya Rupiah saja yang terpuruk, banyak mata uang lain yang bergelimpangan terhadap Dollar dalam beberapa tahun terakhir.

Tetapi yang penting sebenarnya bukan mencari kesalahan siapa, justru kita harus pandai mencari peluang dalam kondisi seperti ini. Pada era Rupiah yang terus memburuk seperti ini, semua produk yang diimpor akan terus menjadi semakin mahal. Maka kesempatan terbaik kita untuk mengurangi produk-produk impor, khususnya produk impor yang dikonsumsi habis seperti bahan makanan dan produk-produk konsumen lainnya.

Inilah kesempatan bagi negeri ini untuk menggalakkan produksi dalam negeri, minimal untuk memenuhi kebutuhan sendiri sebagai substitusi kebutuhan-kebutuhan yang selama ini diimpor. Syukur-syukur bisa memanfaatkan peluang untuk ekspor, maka saat ini juga waktu terbaiknya bagi negeri ini untuk membangun kekuatan di pasar dunia.

Dalam trend Rupiah yang terus memburuk seperti yang ditunjukkan oleh grafik-grafik tersebut di atas, yang perlu waspada adalah kalangan yang berpenghasilan tetap seperti mayoritas pegawai.

Kalangan yang berpenghasilan tetap dalam Rupiah ini sesungguhnya terkena pukulan dua kali sekaligus. Pertama daya beli mereka terus menurun terhadap kebutuhan  konsumsi yang masih mengandung komponen impor besar.

Kedua, mayoritas asset dalam berbagai bentuk yang berdenominasi  Rupiah seperti dana pensiun, tunjangan hari tua, asuransi, tabungan, deposito dlsb. pasti nilai daya beli riilnya juga sebenarnya turun terus menerus.

Lantas apa solusinya ? solusi sementara untuk dana-dana yang sifatnya jangka panjang – konversi menjadi asset riil dapat melindunginya dari penurunan nilai yang terus menerus tersebut.

Solusi yang lebih permanen menuntut kerja ekstra tetapi insyaAllah akan bisa  memberikan hasil terbaik dalam jangka panjang,  yaitu merintis jalan untuk pindah dari kwadran penghasilan tetap ke kwadran tidak tetap yaitu menjadi pedagang atau pengusaha.

Memang beresiko dan tidak mudah, tetapi 9 dari 10 pintu rezeki adanya di perniagaan ini – jadi banyak peluangnya. Disamping itu konsep rezeki yang asalnya tidak disangka-sangka dan jumlahnya tidak terhitung itu lebih mudah untuk dihayati dan dijalani. InsyaAllah. 

Senin, 08 Februari 2016

Manusia, Makanan dan Alam

Manusia, Makanan dan Alam

Tanpa disadari begitu banyak masalah di dunia ini yang disebabkan oleh karena makanan yang salah  baik dari jenis maupun cara pengelolaannya. Dari masalah tingginya biaya kesehatan, diabetis, penyakit-penyakit cardiovascular, children obesity sampai krisis air, dan bahkan krisis politik. Krisis melonjaknya biaya bahan pangan tahun 2008 bahkan mentrigger sejumlah perubahan politik besar di dunia mulai dari Haiti, Bangladesh sampai Mesir. Di sejumlah negara tersebut gandum sempat mengalami kenaikan harga sampai 130 %, kedelai 87 %, beras 74 % dan jagung 31 %.

Lonjakan-lonjakan harga bahan pangan seperti ini tidak hanya sekali pada tahun 2008 tersebut, bisa terulang kapan saja bila salah satu triggernya muncul. Baik trigger yang sifatnya alam seperti kekeringan, angin topan dan gejala perubahan iklim maupun yang sifatnya man-made seprti kebijakan politik ekonomi yang salah, perang dan lain sebagainya.

Yang menjadi trigger dari krisis pangan bisa beraneka hal, tetapi itu semua sebenarnya hanya menguatkan symptoms atau gejala dari suatu penyakit. Penyakit yang sesungguhnya adalah karena kesalahan makanan baik jenis maupun cara pengelolaannya – seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini.

Dari sisi jenis dapat dilihat di komoditi yang melonjak harganya di tahun 2008 tersebut yaitu gandum, kedelai, beras dan jagung. Apa salahnya ? manusia di seluruh bumi tergantung begitu banyak pada jenis makanan biji-bijian ini. Bila saja pada tahun tersebut manusia sudah sangat terbiasa dengan makanan utama dari jenis buah dan sayur, krisis dan huru hara politik seperti 2008 bisa saja dihindari.

Berbeda dengan jenis biji-bijian yang pada umumnya dikelola dengan skala ekonomi tertentu – semakin besar semakin efesien katanya, buah dan sayur bisa ditanam dalam skala berapa saja bahkan disekitar rumah kita – kecil kemungkinannya untuk sampai terjadi krisis.

Pengelolaan bahan pangan secara konglomerasi di dunia-lah yang menimbulkan berbagai (potensi) krisis semacam ini karena kendali supply bahan pangan tergantung hanya pada segelintir pihak yang penuh kepentingan. Konsentrasi pengendalian bahan pangan dunia itu kini begitu mencengangkan.

Dalam bukunya The Urban Food Revolution (New Society Publisher, 2011) Peter Ladner mengungkapkan datanya bahwa hanya ada 5 perusahaan  yang mengendalikan 90% perdagangan biji-bijian di dunia. Di Amerika seluruh kendali supply daging dikendalikan oleh hanya 4 perusahaan. Satu perusahaan saja di Amerika ada yang mengendalikan 85 % luasan tanaman jagung negeri itu, dan sederet fakta lainnya.

Di Indonesia Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) saat ini sedang menangani dugaan kartel yang dilakukan oleh 12 perusahaan peternakan ayam terkait dengan penguasaan perdagangan daging ayam mereka. Indikasi yang sama pernah disinyalir KPPU terhadap perdagangan terigu beberapa tahun lalu, tetapi entah sampai mana ujung pneyelidikannya saat ini.

Ini semua mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam makanan kita dan cara pengelolaannya – yang harus diperbaiki. Di Amerika Serikat bahkan gerakan memperbaiki makanan ini antara lain digerakkan oleh ibu negaranya dengan program yang disebut Let’s Move Salad Bar To School. Selain berupaya merubah pola makan anak sejak usia muda, gerakan ini juga untuk menekan meledaknya gejala children obesity – kegemukan pada anak – gara-gara salah pola makan.

Lantas bagaimana kita bisa ikut memperbaiki pola makan, dan cara pengelolaan sumber-sumber pangan sekaligus mencegah krisis multi dimensi yang disebabkan oleh makanan ini ? Beruntunglah umat ini karena petunjuk lengkap tentang seluk beluk makanan mulai dari jenis sampai cara pengelolaannya ada di kitab Al-Qur’an yang menjadi pegangan kita dan juga contoh-contoh langsung dari uswatun hasanah kita.

Komposisi makanan kita yang ideal misalnya , disebutkan dalam suatu rangkain yang lengkap mulai dari biji-bijian, anggur dan sayuran bergizi tinggi, zaitun dan kurma, tanaman-tanaman yang ditanam di kebun yang lebat, buah-buahan dan rerumputan - buahnya untuk manusia, rumputnya untuk ternak – yang ujungnya juga untuk kita. (QS 80:27-32)

Perhatikan polanya bahwa biji-bijian memang salah satu makanan utama kita – tetapi kita tidak bergantung pada biji-bijian – sangat banyak bahan makanan lain terutama buah dan sayuran yang bisa tumbuh di sekitar kita. Demikian pula daging, memang diisyaratkan itu juga bagian dari makana kita, tetapi lagi-lagi kalau tidak bisa menjangkau makanan dari daging juga tidak mengapa karena protein dan lemak yang biasanya diisi oleh daging dengan mudah  bisa digantikan oleh bahan pangan lainnya.

Bukan hanya jenis-nya, kita juga diajari untuk menghindari konglomerasi pengelolaan sumber daya alam seperti untuk produksi pangan ini. Cara Allah mengajari kita tentang masalah ini adalah melalui cerita bangsa Tsamud yang dengan segelintir orangnya – sembilan orang  berbuat kerusakan di muka bumi.

Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS 27:48)

Lebih jauh dari itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi petunjuk detilnya – yaitu umat ini harusnya bersyirkah dalam tiga hal yaitu lahan ( untuk produksi pangan) , air dan api (energi).

Bila saja kita mengikuti petunjuk-petunjuk tersebut, maka insyaAllah kita akan bisa menjaga kesinambungan supply bahan pangan bukan hanya untuk kita yang hidup saat ini tetapi juga untuk generasi-generasi keturunan kita ke depan. Bukan hanya cukup makan, kita juga akan bisa menjaga tiga keseimbangan di alam.

Tiga keseimbangan itu adalah manusia, makanan dan alam. Bila manusia makan-makanan yang baik, alam akan terjaga. Bila alam terjaga, keberadaan manusia juga akan terjaga. Sebaliknya bila manusia salah makan, maka alam-pun dirusaknya – dan dengan kerusakan alam ini keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi ikut terganggu.

Maka tidak heran para Rasul-pun diperintahkan untuk makan yang baik dahulu sebelum diperintahkan untuk beramal shaleh, mengajak manusia ke jalan yang benar.

Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 23:51).

Nah kalau Michelle Obama saja bisa menyadari perlunya membetulkan pola makan sejak dini pada anak-anak, mengapa kita yang diberi petunjuk olehNya tidak berbuat sesuatu untuk perbaikan yang sangat dibutuhkan ini ?

Maka perbaikan pola makan dan pengelolaan supply bahan pangan inilah yang hendak kita capai antara lain melalui program-program 101 Salad, dan Integrated Organic Farming – yang semuanya bisa pembaca ikuti langkah-langkah konkritnya, termasuk bergabung dalam Workshop 2 Hari untuk mengawali gerakan ini yang akan kita lakukan bersama di bulan depan. InsyaAllah.

Jumat, 04 September 2015

Bisnis Diskotik Dari Perspektif Hukum, Etika dan Agama

Bisnis Diskotik Dari Perspektif Hukum, Etika dan Agama

Baru-baru ini, pemberitaan dari Tempo membuat geger masyarakat. Seorang polisi wanita, Inspektur Satu Rita, terbukti mengkonsumsi ekstasi setelah dilakukan tes urine terhadapnya. Rita yang sebelumnya bertugas di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian Resor Jakarta Selatan ini menkonsumsi ekstasi di sebuah diskotik dan kini telah dicopot dari jabatannya. Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan hasil tes urine terhadap Rita menyatakan ia mengkonsumsi amphetamine yang terkandung dalam ekstasi. “Dia juga mengaku pakai ekstasi pada Sabtu, 10 Maret kemarin, di Stadium,” kata Rikwanto di Markas Polda Metro Jaya pada Selasa, 13 Maret 2012.
Sebelumnya, kasus yang lebih menggegerkan pernah terjadi. Seperti yang sempat diberitakan dkinews.com dimana pengendara xenia maut Avriani Susanti yang menewaskan Sembilan warga di Tugu Tani, Jakarta positif menggunakan narkoba saat berkendara. Berdasarkan keterangan Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Nugroho, tersangka membeli  dan mengonsumsi narkoba jenis ekstasi di diskotik Stadium, Hayam Wuruk, Jakarta Barat pada Minggu dini hari kemarin.
Dua contoh diatas hanya sedikit dari banyaknya kasus yang berawal dari sebuah tempat hiburan yang biasa disebut diskotik. Sebelumnya sudah sangat banyak terjadi pelanggaran hukum di tempat ini. Baik yang terekspos media maupun tidak. Narkoba, kekerasan, perkelahian, pemerasan, prnografi dan pornoaksi hingga pembunuhan seringkali terjadi di tempat ini. Sehingga tak salah bila persepsi masyarakat terbentuk bahwa diskotik merupakan sarang berbagai tindak kejahatan. Ironisnya, pemerintah terkait seolah tak mampu berbuat banyak akan hal ini.
Diskotik di Indonesia sudah berdiri sejak lama. Sebagai hasil dari budaya hedonis barat, diskotik begitu cepat tumbuh. Keterbukaan Indonesia atas investasi dari luar negeri dalam berbagai sektor khususnya hiburan menjadi salah satu penyebab menjamurnya diskotik. Di Jakarta saja, ratusan diskotik telah berdiri. Dari yang kelas remang-remang sampai kelas eksekutif.
Sebagai bagian dari industri hiburan legal, diskotik memang sudah diatur sedemikian rupa oleh undang-undang maupun peraturan daerah. Dan setiap daerah tampaknya berbeda satu sama lain. di Jakarta misalnya, terdapat Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 21 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan diskotik. Di Banjarmasin ada Peraturan Walikota Banjarmasin Nomor 15 tahun 2005 tentang operasionalisasi tempat hiburan malam. Dan peraturan demi peraturan kesemuanya mengerucut kepada upaya pemerintah untuk mengontrol tempat hiburan ini agar tidak melanggar pidana seperti narkoba, prostitusi, pornoaksi dan lain sebagainya.
Fakta di lapangan tampaknya berbeda dengan cita-cita pemerintah yang tercantum dalam peraturan yang dibuat. Diskotik menjadi sarang tindak kejahatan. Seperti dua contoh diatas. Diskotik menjadi tempat transaksi narkoba yang begitu leluasa. Razia demi razia sering dilakukan namun yang terjaring seringkali hanya pengguna narkoba yang notbene adalah ‘korban’ dari narkoba itu sendiri. Para pengedar khusunya pengedar besar justru seringkali lolos dari usaha penangkapan. Wajar adanya apabila kemudian muncul pertanyaan dalam benak masyarakat: “Jangan-jangan ada oknum tertentu yang melindungi tempat-tempat hiburan dan para pengedar”.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat-tempat hiburan khususnya diskotik ada oknum pelindungnya. Sebut saja anggota Kei yang akhir-akhir ini heboh di media massa. Tidak hanya sipil yang ikut dalam bisnis ini. Oknum aparat pun seringkali disebut-sebut ikut terlibat. Dengan memanfaatkan jabatan, aparat ini kerap meminta fee kepada pengusaha dengan imbalan diskotik mereka aman dari gangguan. Pengedar pun demikian. Seringkali mereka membayar fee kepada oknum aparat dengan jaminan aman dalam transaksinya. Keterlibatan oknum-oknum ini terutama aparat layaknya musuh dalam selimut pemerintah dalam upaya membersihkan diskotik dari potensi kejahatan. Bahkan keterlibatan aparat inilah yang membuat diskotik terus-menerus menjamur hingga saat ini serta membuat kejahatan demi kejahatan di bisnis hiburan terus menerus meningkat. Lantas bagaimana mungkin pemerintah mampu menegakkan aturan-aturannya jika alat negaranya saja justru melindungi kejahatan.
Sebagai tempat hiburan, diskotik memainkan peran penting dalam berbagai kasus kejahatan seperti yang telah diutarakan diatas. Namun pemerintah tidak semerta-merta melarang pemberian izin dengan alasan tersebut untuk pengusaha yang ingin terjun dalam bisnis ini. Izin masih diberikan tentu dengan peraturan yang ketat dan pajak yang tinggi. Pertanyaannya lantas bagaimana terjun dalam bisnis tempat hiburan ditinjau dari perspektif hukum, etika dan agama?
Secara hukum, jelas bahwasanya bisnis tempat hiburan adalah legal. Bahkan dilindungi oleh undang-undang. Perdebatan akan muncul jika bisnis ini ditarik dalam ranah etika dan agama. Kita semua paham, bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan budaya ketimuran yang kuat. Ada nilai-nilai kesopanan, saling tolong menolong dan hormat menghormati antara sesama manusia. Nilai-nilai ini dipegang tidak hanya dalam lingkup interaksi sosial masyrakat pada umunya, tetapi juga dalam berbisnis. Artinya, dalam bisnis sekalipun ada nilai kesopanan dan norma sosial yang dipegang. Jika tidak, maka individu dianggap telah melakukan tindakan amoral dalam lingkungannya. Sesuatu yang tidak ada dalam masyarakat barat.
Dari sudut pandang etika masyarakat, berbisnis dalam industri hiburan khususnya diskotik adalah sesuatu yang melanggar etiak / norma ketimuran yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dan kemanusiaan. Sebagai tempat yang memfasilitasi hal-hal yang menjadi penyakit masyarakat seperti minuman beralkohol dan wanita-wanita penghibur yang berpakaian seksi, tentu saja membuat diskotik ini wajar apabila menjadi ‘musuh’ masyarakat. Dan orang-orang yang terlibat dalam bisnis ini merupakan orang-orang yang merusak nilai-nilai yang selama ini dipegang teguh oleh masyarakat indoneisa.
Sayangnya, semakin menjamurnya tempat-tempat hiburan di Indonesia membuat anggapan bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai melupakan nilai-nilai ketimuran semakin benar adanya. Masyarakat Indonesia semakin mnyingkirkan isu-isu sosial dan lebih mementingkan keuntungan duniawinya semata. Uang menjadi nomor satu. Tak peduli apakah ia melakukan sesuatu yang benar atau tidak dari sudut pandang etika kemasyarakatan.
Setali tiga uang dengan sudut pandang etika / norma kemasyarakatan, pendekatan agama dalam memahami bisnis diskotik juga menghasilkan pandangan yang negatif. Sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, Islam sudah sangat sering mengungkapan larangan-larangan kegiatan tertentu seperti mabuk-mabukan, perkelahian, perzinahan dan lain sebagainya. Dan diskotik justru menyediakan itu atau paling tidak mendukung hal tersebut.
Nyaris tidak ada perdebatan mengenai halal / haram terjun dalam bisnis diskotik. Dan mayoritas ulama setuju bahwa bisnis diskotik adalah haram. Hal tersebut tidak terlepas dari kaidah islam itu sendiri yang menyatakan bahwa ketika kita memiliki sebuah simbol, maka sebenarnya kita adalah bagian dari simbol itu sendiri. Artinya adalah, bahwa kaidah diatas dapat dianalogikan seperti bisnis diskotik atau bisnis haram lainnya. Diskotik adalah fasilitator atau media tempat terjadinya tindakan pidana maupun asusila. Dan semua orang pasti menyadari hal tersebut. Dan sangat naïf jika masih ada yang mengatakan tidak. Ketika kita menyediakan fasilitas tersebut, itu berarti kita menyetujui tindakan-tindakan yang ada di dalamnya. Itu berarti ketika kita berbisnis dalam dunia diskotik dan tempat hiburan lain yang sejenis, kita sebenarnya menjadi bagian dari transaksi narkoba, perzinahan dan lain sebagainya. Dan itu merupakan dosa besar dimata Allah.
Akhirnya, kita mendapatkan sebuah gambaran besar betapa perkembangan bisnis tempat hiburan khususnya diskotik sangat mengkhawatirkan dan menjadi ironi mengingat Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduknya menganut agam Islam dan juga budaya ketimuran yang kental menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan kesusilaan. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berbisnis. Namun bisnis tersebut haruslah tidak melanggar kaidah-kaidah islam seperti narkoba, alkohol, prostitusi, pornografi dan lain sebagainya. Diskotik sebagaimana diketahui secara luas menyediakan hal-hal tersebut. Dan itu artinya secara otomatis bisnis diskotik menjadi bisnis yang ditolak secara norma maupun agama.

HANYALAH KATA KATA ISLAMI YANG BUAT HATI KITA TENANG,,,!

HANYALAH KATA KATA ISLAMI YANG BUAT HATI KITA TENANG,,,!
“Jangan memandang rendah dan remeh orang lain, Hanya karena tak lebih pintar, tak lebih kaya, tak lebih beruntung Dan tak mempunyai pangkat sepertimu. Kadangkala di mata Allah Swt, batubara yang terlihat legam. Terlihat lebih berkilau dibanding dengan permata yang mahal harganya.”
“Sesungguhnya puncak keteguhan adalah tawadhu. Salah seorang bertanya kepada Imam, Apakah tanda-tanda tawadhu itu? Beliau menjawab, Hendaknya kau senang pada majlis yang tidak memuliakanmu, memberi salam kepada orang yang kau jumpai, dan meninggalkan perdebatan sekalipun engkau di atas kebenaran”

Sabtu, 22 November 2014

Bank Syariah di Indonesia lebih Islami dibandingkan Bank Syariah Luar Negeri

Bank Syariah di Indonesia lebih Islami dibandingkan Bank Syariah Luar Negeri

Pusat Riset dan Edukasi Bank Sentral (PRES) Bank Indonesia, merilis hasil penelitian yang berjudul "Formulating Islamic Bank Performance Measurement Based On Shari'ah Objectives" pada Selasa (18/11). Penelitian ini dibuat oleh gabungan tim peneliti PRES, yang diketuai oleh Bapak Ascarya dan Ibu Siti Rahmawati serta Ibu Enny Anwar sebagai anggota. Selain itu, penelitian ini juga dibantu oleh Bapak Raditya Sukmana (Dosen Ekonomi Islam, Universitas Airlangga Surabaya) sebagai anggota tim peneliti.
Penelitian ini  didasari dengan banyaknya penelitian mengenai Islamic Bank Performance dari sisi keuangan, tetapi terbatas dalam menggali aspek kesyariahannya (kesesuaian dengan aspek maqashid Syariah). Pengukuran tingkat Maqashid Perbankan Syariah dengan menggunakan pemikiran Imam Syatibi, dikenal dengan Syaikhul Maqashid, menjadi bagian dari penulisan penelitian ini, dimana Maqashid al-Syariah dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu Dharuriyat (primer), hajiyyat (sekunder), dan tahsiniyyat (tersier). Pemikiran Imam Syatibi ini kemudian dikombinasikan dengan pemikiran Al-Ghazali tentang Maqashid Syariah yang mencakup, perlindungan agama (faith), jiwa (life), akal (intellect), keturunan (lineage) dan harta (wealth).
Dari aspek metodologi, penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Untuk data primer, sampel yang dipilih adalah qualified respondent yang sesuai dengan metode Analytic Network Process (ANP). Penelitian ini mengambil 35 responden dan dibagi ke dalam 5 kelompok, yakni 7 regulator, 7 akademisi, 7 ulama, 7 praktisi dan 7 ahi ekonomi dan keuangan Islam. Sedangkan data sekunder diambil dari laporan tahunan yang terdiri dari 6 Bank Syariah di Indonesia dan Luar Negeri. Untuk Bank Syariah di Indonesia yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI), Bank Syariah Mandiri (BSM), BNI Syariah (BNIS), BRI Syariah (BRIS), Bank Permata Syariah (BPS) dan BCA Syariah (BCAS). Sementara, untuk Bank Syariah di Luar Negeri yaitu Al-Rajhi Bank (ARB) dari Arab Saudi, Mizan Bank (MZB) dari Pakistan, Dubai Islamic Bank dari UAE, Kuwait Finance House (KFH) dari Kuwait, Qatar Islamic Bank (QIB) dari Qatar, dan Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) dari Malaysia.
Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah (i) analisis konten yang digunakan untuk mengevaluasi pengukuran Islamic bank performance dan menentukan beberapa indikator untuk masing-masing tujuan hukum Islam dengan mengacu pada Chapra (2008) dan Bedoui (2012), (ii) metode Analytic Network Process (ANP) yang digunakan untuk menentukan bobot dari 5 aspek dalam Maqashid (perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta) dan pembobotan penentuan elemen indikator di masing-masing aspek. (iii) analisis konten berdasarkan Sekaran (2010) yang digunakan untuk menentukan variabel-variabel observasi untuk semua indikator. Terakhir, metode kuantitatif menggunakan Simple Additive Weighting (SAW) dan menggunakan Bedoui (2012) dengan menggunakan pentagon guna menentukan bobot indeks Islamic bank performance yang terdiri dari 6 Bank Syariah di Indonesia dan Luar Negeri.
Dengan menggunakan metode SAW dan Bedoui Pentagon, menunjukkan bahwa Islamic Bank Maqashid Index (IBMI) dari Bank Syariah Mandiri (BSM) berada pada posisi teratas selama 3 tahun yaitu 2009-2011 dengan indeks IBMI  53.2%, 57.0% dan 52.1% untuk metode SAW dan 27.1%, 31.7% dan 25.9% untuk metode Bedoui Pentagon pada masing-masing tahun. Sedangkan pada tahun 2012-2013, BNI Syariah mampu menggeser posisi BSM dengan perolehan  54.8% dan 49.8% untuk metode SAW dan 28.2% dan 23.9% untuk metode Bedoui Pentagon pada masing-masing tahun. Sementara Bank Muamalat Indonesia (BMI) berada pada posisi terbawah pada tahun 2009-2013 berdasarkan metode SAW dan terbawah pada 2009, 2010 dan 2012 berdasarkan metode Bedoui Pentagon.
Sementara, tingkat IBMI Bank Syariah Luar Negeri dengan menggunakan metode SAW dan Bedoui Pentagon (2012) menunjukkan Bank Mizan di Pakistan berada pada posisi teratas selama tahun 2010-2013 dengan tingkat IBMI 41.7%, 45.0%, 39.7%, dan 43.7% untuk metode SAW dan 16.36%, 20.30%, 15.95% dan 19.38% untuk metode Bedoui Pentagon pada masing-masing tahun. Sementara Dubai Islamic Bank (DIB) berada pada posisi terbawah.
Perbandingan tingkat IBMI antara Bank Syariah di Indonesia dan Luar Negeri dengan menggunakan metode Bedoui Pentagon dan SAW menunjukkan Bank Syariah di Indonesia (BSM, BNIS, dan BRIS)  lebih Islami dengan mencapai tingkat Maqashid yang lebih baik dibandingkan Bank Syariah Luar Negeri yang performanya paling baik yaitu Meezan Bank (MZB). Walaupun performa BMI terendah diantara Perbankan Syariah di Indonesia, tetapi BMI masih menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan Bank Syariah Luar Negeri kecuali bila dibandingkan dengan Meezan Bank. Sementara berdasarkan metode SAW, BMI mampu mengungguli MZB pada tahun 2012 dengan tingkat IBMI 40.6% sedangkan MZB hanya 39.7%. Berdasarkan IBMI, karakteristik Maqashid Bank Syariah di Indonesia terletak pada perlindungan harta, sementara Bank Syariah Luar Negeri pada perlindungan akal dan agama.
Hasil ANP untuk Maqashid Syariah Perbankan Syariah menunjukkan bahwa perlindungan agama (23.43%) dan perlindungan jiwa (22.79%) adalah dua objek Syariah terpenting dalam Perbankan Syariah. Hal ini sesuai dengan konsep Al-Ghazali  yang menempatkan perlindungan agama dan jiwa sebagai objek Syariah terpenting. Sementara objek selanjutnya adalah perlindungan harta (18.63%), perlindungan akal (18.15%) dan perlindungan keturunan (17.00%).
Hasil diatas juga menunjukkan walaupun perbankan Syariah adalah perusahaan berdasarkan profit-oriented, namun sisi kesyariahannya tidak terabaikan. Disisi lain, para responden yang masuk kategori ahli ekonomi keuangan Syariah menyatakan bahwa teknis pelaksanaan Bank Syariah harus sesuai dengan teori yang ada.
Rekomendasi yang diusulkan pada penelitian tersebut adalah penerapan Maqashid Al-Shariah menurut pemikiran Umar Chapra harus disesuaikan dengan karakteristik Institusi Keuangan Syariah yang didasarkan dengan nilai-nilai perusahaan, budaya dan kearifan lokal. Selain itu, perluasan dimensi ke dalam elemen-elemen yang menggunakan metode Sekaran harus dilakukan dengan hati-hati, melibatkan ulama, ahli dan akademisi yang mumpuni dalam ekonomi dan keuangan Syariah dan hukum Syariah. Selanjutnya, Bank Syariah harus diberikan dorongan, baik dari otoritas dan pemilik, untuk mencapai elemen-elemen penting dari objek syariah, terutama perlindungan agama dan jiwa. 

sumber: http://www.iaei-pusat.org/news/siaran-pers/bank-syariah-di-indonesia-lebih-islami-dibandingkan-bank-syariah-luar-negeri?language=id

Kamis, 05 Juni 2014

9 Pelajaran Dari Pekerjaan Terbaik

9 Pelajaran Dari Pekerjaan Terbaik

Bila pekerjaan terbaik kedua setelah berjihad itu adalah menggembala, mestinya ini mengundang pertanyaan atau keingin tahuan kita, ada pelajaran apa sebenarnya dalam pekerjaan ini ? dan mengapa sampai seluruh nabi melakukannya ?  Maka tanpa terasa sudah 5 tahun berlalu sejak kami mulai bergelut dengan dunia ternak dan akhirnya menemukan kembali konsep menggembala - yang nampaknya memang harus dihidup-hidupkan kembali jenis pekerjaan yang luar biasa ini. Setidaknya kami menemukan ada 9 pelajaran yang bisa dipetik, yang tidak akan mudah ditemukan di pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Sembilan pelajaran tersebut adalah sebagai berikut :

teori murabahah dan aplikasinya di perbankan syariah


teori murabahah dan aplikasinya di perbankan syariah

A.      Ruang Lingkup Murabahah
1.         Pengertian Murabahah
Murabahah berasal dari kata dasar  رَبِحَ - يَرْبَحُ - ِربْحًا yang berarti beruntung. Didalam ilmu syaraf mempunyai fungsi sebagai musyarakah diantara dua orang atau lebih, seseorang yang mengerjakan sesuatu sebagaimana yang lain juga mengerjakan.[1] Jadi, pengertian murabahah secara bahasa adalah mengambil keuntungan yang disepakati.[2] Bai’ murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam bai’ murabahah penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.[3]
Murabahah dalam istilah fiqih Islam yang berarti suatu bentuk jual beli tertentu ketika penjual menyatakan biaya perolehan barang, meliputi harga barang dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk memperoleh barang tersebut, dan tingkat keuntungan (margin) yang diinginkan.[4]
            Pengertian saling menguntungkan disini dapat dipahami, bahwa keuntungan itu adalah bagi pihak pertama, yaitu yang meminta pembelian dan keuntungan bagi pihak kedua (yang mengembalikan). Keuntungan bagi pihak pertama adalah terpenuhi kebutuhannya, dan keuntungan bagi pihak kedua adalah tambahan keuntungan yang ia ambil berdasarkan kesepakatan dengan pihak pertama. Saling menguntungkan, ini harus berlandaskan pada adanya kerelaan kedua belah pihak terhadap jual beli yang mereka lakukan.
Secara istilah banyak defenisi yang diberikan para ulama terhadap pengertian murabahah. Akan tetapi diantara defenisi-defenisi tersebut mempunyai suatu pemahaman yang sama. Dibawah ini peneliti memuat beberapa defenisi tentang murabahah menurut pendapat para ekonom muslim dan juga sebagian ulama, yaitu :
1.        Muhammad Syafi’i Antonio, murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam murabahah, penjual harus memberitahu harga pokok yang ia beli dan menentukan tingkat keuntungan yang disepakati.[5] 
2.        Menurut Adiwarman A. Karim, murabahah (al- ba’ bi tsaman ajil) lebih dikenal sebagai murabahah saja. Murabahah yang berasal dari kata ribhu (keuntungan), adalah transaksi jual beli dimana Bank menyebutkan jumlah keuntungan yang diperoleh. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah keuntungan (margin).[6]
3.        Sunarto Zulkifli, Bai’ al-murabahah adalah prinsip bai’ (jual beli) dimana harga jualnya terdiri dari harga pokok barang ditambah nilai keuntungan (ribhun) yang disepakati. Pada murabahah, penyerahan barang dilakukan pada saat transaksi sementara pembayarannya dilakukan secara tangguh atau cicilan.[7]
4.        Karnain Perwataatmadja, murabahah berarti barang dengan pembayaran ditangguhkan (1 bulan, 3 bulan, 1 tahun dst). Pembiayaan murabahah adalah pembiayaan yang memberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi. Pembiayaan mirip dengan kredit modal kerja yang bisa diberikan oleh bank-bank konvensional, dan karena pembiayaan murabahah berjangka waktu dibawah 1 tahun (short run finacing).[8]
5.        Bambang Rianto Bustam, murabahah berasal dari kata “ribhu’ (keuntungan) yaitu akad jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah.[9]
6.        Sutan Remy Sjaddini, murabahah adalah jasa pembiayaan dengan mengambil bentuk transaksi jual beli dengan cicilan. Pada perjanjian murabahah atau mark-up, bank membiayai pembelian barang atau asset yang dibutuhkan oleh nasabahnya dengan membeli barang itu dari pemasok barang dan kemungkinan menjual kepada nasabah tersebut dengan menambahkan mark-up untung.[10]
7.        Ibrahim Lubis memberikan defenisi yang tidak jauh berbeda dengan defenisi yang dikemukakan Ibnu Rusyd, yaitu suatu bentuk jual beli, dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli kemudian ia mensyaratkan keuntungan dalam jumlah tertentu.[11]
8.        Yusak Laksmana, murabahah adalah pembiayaan jual beli dimana penyerahan barang dilakukan diawal akad. Bank menetapkan harga jual barang itu harga pokok perolehan barang ditambah sejumlah margin keuntungan bank. harga jual yang telah disepakati diawal akad tidak boleh berubah selama jangka waktu tertentu.[12]
9.        Para Fukaha, mendefinisikan murabahah adalah sebagai penjualan barang seharga biaya atau harga pokok (cost) barang tersebut ditambah mark-up margin keuntungan yang disepakati.[13]      
10.    Ibnu Rusyd, didalam kitabnya Bidaayatul Al-Mujtahid Wa Al-Nihaayatu Al-Muqtasid, murabahah adalah penjual menyebutkan harga barang yang dibeli kepada pembeli, yang kemudian disyaratkan kepadanya keuntungan dari barang tersebut, baik dalam bentuk dirham maupun dinar. Lebih lanjut dijelaskan Ibnu Rusyd bahwa bentuk jual beli barang dengan tambahan harga atas harga dasar pembelian, berlandaskan sifat kejujuran.[14]
11.    Imam Syafi’i didalam kitabnya al-Ulum menyebutkan murabahah ini dengan istilah al-Amir Bi al-Syara’ adalah pembelian barang yang dilakukan oleh orang yang diminati untuk membeli secara tunai oleh orang yang memesan barang untuk kemudian orang yang memesan atau meminta pembelian itu membayar secara angsuran atau cicilan kepada yang diminati.[15]
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa murabahah adalah akad jual beli barang dimana Bank sebagai penjual sementara, nasabah sebagai pembeli dengan memberitahukan harga beli dari pemasok dan biaya-biaya lainnya serta menetapkan keuntungan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.   
Dari sudut pandang fiqih, murabahah merupakan akad jual beli atas barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga dasar pembelian barang kepada pembeli, kemudian penjual tersebut mensyaratkan keuntungan atas harga dasar pembelian.

2.         Dasar Hukum Murabahah
Adapun dasar hukum murabahah dapat dilihat dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadist, sebagai berikut :  
a.        Al-Qur’an
Surah Al-Baqarah (2) : 275

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ Ï%©!$# çmäܬ6ytFtƒ ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr'Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìøt7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§ 4ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ

Artinya :     “Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan urusannya kepada Allah. Orang yang kembali, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka mereka kekal di dalamnya.[16]

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT mempertegas legalitas dan keabsahan jual beli secara umum, serta menolak dan melarang konsep ribawi. Berdasarkan ketentuan ini, jual beli murabahah mendapat pengakuan dan legalitas dari syara’, dan sah untuk dioperasionalkan dalam praktik pembiayaan pada Bank Syari’ah karena merupakan salah satu bentuk jual beli dan tidak mengandung unsur ribawi.[17] 

Surah An-Nisa’ (4) : 29

$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu ÇËÒÈ


Artinya :     Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.[18]

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah SWT melarang segala bentuk transaksi yang batil. Diantara transaksi yang dikategorikan batil adalah yang mengandung bunga (riba), sebagaimana terdapat pada sistem kredit konvensional. Berbeda dengan murabahah, dalam akad ini tidak ditemukan unsur bunga namun hanya menggunakan margin. Disamping itu, ayat ini mewajibkan untuk keabsahan setiap transaksi murabahah harus berdasarkan prinsip kesepakatan antara para pihak yang ditungakan dalam suatu perjanjian yang menjelaskan dan dipahami segala hal yang menyangkut hak dan kewajiban masing-masing.[19]      

b.        Al-Hadist
Sedangkan landasan hadist yang mendasari transaksi murabahah ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah No. 2289, yaitu :
عَنْ سُهَيْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النبَِّيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ قَالَ : ثَلاَثَ فِيْهِنَّ اْلبَرْكَةُ : اَلْبَيْعُ إِلَى أَجَلٍ وَاْلمُقَارَضَةُ وَخَلْطُ الْبُرِّ بِالشَّعِيْرِ لِلْبَيْتِ لاَ لِلْبَيْعِ (رواه ابن ما جه)

Artinya  :    “ Diriwayatkan dari shuhaib r.a. bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : tiga hal yang mengandung berkah, yaitu jual beli secara tidak tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” (H.R. Ibnu Majah dari Shuhaib).[20]     

Hadist diatas menjelaskan diperbolehkannya praktek jual beli yang dilakukan secara tempo, begitu juga dengan pembiayaan murabahah yang dilakukan secara tempo, dalam arti nasabah diberi tenggang waktu untuk melakukan pelunasan atas harga komoditas sesuai kesepakatan.[21] 





Hadist Riwayat At-Tirmidzi N0. 1209 :
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: « التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ – وفي رواية: مع النبيين و الصديقين و الشهداء –  يَوْمَ الْقِيَامَةِ » رواه ابن ماجه والحاكم والدارقطني وغيرهم
Artinya : ”Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Rasuluillah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti).[22]  

Hadist diatas menjelaskan ganjaran bagi pelaku usaha yang jujur dan terpercaya (amanah) akan di sejajarkan para Nabi, orang orang yang shiddiq (benar/jujur) dan para syuhada (orang yang meninggal di jalan Allah), makna hadist diatas juga membuktikan bahwa para nabi sebelumnya juga seorang saudagar atau wirausaha terlihat dari  kata “dibangkitkan bersama para Nabi” kata penyamaan itu menunjukan suatu hal yang erat bahwa ada konteks kesamaan, yang berarti menunjukan bahwa Nabi Nabi dahulu juga seorang wirausahawan, itu sebabnya kaum muslim di anjurkan untuk berwirausaha dan melakukan kebajikan.

c.         Ijma’
          Abdullah Saeed mengatakan, bahwa Al-Qur'an tidak membuat acuan langsung berkenaan dengan murabahah, walaupun ada beberapa acuan di dalamnya untuk menjual, keuntungan, kerugian dan perdagangan. Demikian juga, tidak ada hadist yang memiliki acuan langsung kepada murabahah. Karena nampaknya tidak ada acuan langsung kepadanya dalam al-qur'an atau hadits yang diterima umum, para ahli hukum harus membenarkan murabahah berdasarkan landasan lain.
Imam Malik mendukung pendapatnya dengan acuan pada praktek orang-orang Madinah, yaitu ada konsesus pendapat di sini (di Madinah) mengenai hukum orang yang membeli baju di sebuah kota, dan mengambilnya ke kota lain untuk menjualnya berdasarkan suatu kesepakatan berdasarkan keuntungan.
Imam Syafi'i tanpa bermaksud untuk membela pandangannya mengatakan jika seseorang menunjukkan komoditas kepada seseorang dan mengatakan, "kamu beli untukku, aku akan memberikan keuntungan begini, begini", kemudian orang itu membelinya, maka transaksi itu sah.
Ulama Hanafi, Marghinani, membenarkan berdasarkan 'kondisi penting bagi validitas penjualan di dalamnya, dan juga karena manusia sangat membutuhkannya. Ulama Syafi'i, Nawawi, secara sederhana mengemukakan bahwa penjualan murabahah sah menurut hukum tanpa bantahan.[23]
Mayoritas para ulama membolehkan jual beli dengan cara murabahah, karena manusia sebagai anggota masyarakat selalu membutuhkan apa yang dihasilkan dan dimiliki orang lain.[24]

d.        Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN)
Dewan Syari’ah Nasional menetapkan aturan tentang murabahah sebagaimana tercantum dalam fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal 1 April 2000 sebagai berikut : 
1.        Bank dan Nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas dari riba.
2.        Barang yang diperjual belikan tidak diharamkan oleh syari’ah islam.
3.        Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
4.        Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
5.        Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara berhutang.
6.        Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam hal ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
7.        Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
8.        Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.    
9.         Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip menjadi milik bank.[25]  

3.         Rukun dan Syarat Murabahah
Murabahah merupakan salah satu transaksi jual beli, dengan demikian rukunnya sama dengan rukun jual beli. Menurut Mazhab Hanafiyah yang dikutip dari buku Fiqh Muamalah karya Rahcmat Syafei rukun jual beli adanya ijab dan qabul yang menunjukkan adanya pertukaran atau kegiatan saling memberi yang menepati kedudukan ijab dan qabul. Rukun ini dengan ungkapan lain merupakan pekerjaan yang menunjukan keridhaan dengan adanya pertukaran dua harta milik, baik itu berupa perkataan maupun suatu perbuatan.[26].
Menurut jumhur ulama ada empat rukun dalam jual beli, yaitu orang yang menjual dan orang yang membeli, sighat dan barang atau sesuatu yang diakadkan. Keempat rukun ini mereka sepakati dalam setiap jenis akad. Rukun jual beli menurut jumhur ulama, selain Mazhab Hanafi, ada tiga atau empat persyaratan yaitu, orang yang berakad (penjual dan pembeli), yang diakadkan (harga dan barang yang dihargai), sighat (ijab dan qabul).[27]
Dari ketiga rukun tersebut memiliki syarat, yaitu :
1.        Penjual (ba’i) dan pembeli (Mustari’k)
Penjual dan pembeli mendapat izin untuk menjual dan membeli barang tersebut, kondisi dari kedua dalam keadaan baligh dan sehat akalnya.
2.        Barang/objek (mabi)
Barang yang dijual harus merupakan barang yang diperbolehkan dijual, bersih, bisa diserahkan kepada pembeli, dan bisa diketahui pembeli meskipun hanya dengan ciri-cirinya.
3.        Ijab qabul (Sighat)
Ijab dan qabul dapat dilakukan dengan cara lisan, tulisan maupun isyarat asal  dapat memberikan pengertian yang jelas tentang adanya ijab dan qabul, disamping itu ijab dan qabul juga dapat berupa erbuatan yang telah menjadi kebiasaan dalam ijab dan qabul.[28]  
Menurut ulama Hanafi syarat-syarat jual beli yang berdasarkan rukun jual beli diatas adalah :
1.        Syarat yang terkait dalam ijab dan qabul
a.         Orang yang mengucapkan telah baligh dan berakal.
b.        Qabul harus sesuai dengan ijab.
c.         Ijab dan qabul harus dilakukan didalam suatu majelis.
2.        Syarat orang yang berakad
a.         Baligh dan berakal
b.        Yang melakukan akad adalah orang yang berbeda.
c.         Suka rela (ridho), tidak dalam keadaan dipaksa.
d.        Barang merupakan milik penuh.
3.        Syarat harga barang dan barang yang diperjual belikan.
Para ulama membedakan syarat harga barang dengan barang yang diperjual belikan. Menurut mereka, syarat harga barang adalah harga pasar yang berlaku ditengah masyarakat secara aktual. Para ulama fiqh mengemukakan syarat harga barang adalah :
a.         Harga yang disepakati oleh kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
b.        Boleh diserahkan pada waktu akad atau dibayar kemudian.
c.         Jika jual beli dilakukan dengan saling menukarkan barang, maka barang yang dijadikan nilai tukarnya adalah bukan barang yang diharamkan.
Sedangkan dengan syarat-syarat barang yang diperjual belikan adalah :
a.         Barangnya haruslah suci.
b.        Barang itu dapat diambil manfaatnya menurut ketentuan Islam.
c.         Mudah diserahkan.
d.        Milik seseorang.
e.         Barangnya jelas diketahui oleh orang yang berakad baik zat, sifat, maupun ukurannya.[29]

4.         Macam-Macam Pembiayaan Murabahah.
Murabahah dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1.        Murabahah tanpa pesanan, yaitu apabila ada yang memesan atau tidak, ada yang beli atau tidak, bank menyediakan barang dagangannya. Akan tetapi, penyediaan barang tersebut tidak terpengaruh atau terkait langsung dengan ada tidaknya pesanan atau pembeli.
2.        Murabahah berdasarkan pesanan, yaitu bank baru akan melakukan transaksi murabahah atau jual beli apabila ada nasabah yang memesan barang sehingga penyediaan barang baru dilakukan jika ada pesanan. Akan tetapi, pengadaan barang sangat tergantung atau terkait langsung dengan pesanan atau pembelian barang tersebut. Murabahah dalam pesanan dapat dibagi dua yaitu : (1) murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat megikat, yaitu apabila telah dipesan harus dibeli, dan (2) murabahah berdasarkan pesanan dan bersifat tidak mengikat, yaitu walaupun nasabah telah memesan barang, tetapi nasabah tidak terkait, nasabah dapat menerima atau membatalkan barang tersebut.[30]  

5.         Karakteristik dan Manfaat Murabahah
a.        Karakteristik Murabahah
Karakteristik murabahah yang mana dalam pedoman akuntansi perbankan syari’ah di Indonesia dijelaskan karakteristik murabahah sebagai berikut :
1.        Proses pengadaan barang murabahah harus dilakukan oleh pihak Bank.
2.        Murabahah dapat dilakukan melalui pesanan atau tanpa pesanan dalam murabahah pesanan bank melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari nasabah.
3.        Murabahah berdasarkan pesanan dapat bersifat mengikat dan tidak mengikat nasabah untuk membeli barang yang dipesannya.
4.        Pembiayaan murabahah dapat dilakukan secara tunai ataupun cicilan.
5.        Bank dapat memberi potongan, apabila nasabah dapat melunasi hutang tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang dicantumkan, dengan syarat tidak ada diperjanjikan dalam akad dan besarnya potongan diserahkan pada kebijakan bank.
6.        Bank dapat menerima nasabah menyediakan agunan atas piutang murabahah, antara lain dalam barang yang telah dibeli bank.
7.        Bank dapat meminta uang pembeli kepada nasabah setelah akad disepakati, tetapi apabila murabahah batal, pembeliaan dikembalikan kepada nasabah setelah dikurangi dengan kerugian sesuai dengan kesepakatan, antara lain :
a.         Potongan pembelian bank oleh pemasok.
b.         Biaya administrasi.
c.         Biaya yang dikeluarkan dalam proses pengadaan lainnya.
8.        Apabila terdapat uang muka dalam transaksi murabahah berdasarkan pesanan, maka keuntungan murabahah didasarkan pada posisi harga barang yang telah dibiayai oeh bank.
9.        Bank berhak mengenakan denda kepada nasabah yang tidak dapat dengan indikasi antara lain :
a.         Adanya unsur kesengajaan yaitu nasabah mempunyai dana tetapi tidak melakukan pembayaran piutang murabahah.
b.         Adanya unsur penyalahgunaan yaitu nasabah yang mempunyai dana tetapi digunakan terlebih dahulu untuk hal lain.
10.    Apabila setelah akad transaksi murabahah maka pemasok akan memberikan suatu potongan harga atas barang yang dibeli oleh bank dan telah dijual kepada nasabah, maka potongan harga tersebut dibagi berdasarkan perjanjian atau persetujuan yang dibuat dalam akad, pembagian potongan harga setelah akad harus diperjanjikan lagi mana porsi potongan harga yang menjadi milik bank dapat diakui sebagai pendapatan operasi lainnya.[31]      

b.        Manfaat Murabahah
Sesuai dengan sifat bisnis (tijarah), transaksi murabahah memiliki beberapa manfaat, yaitu : Bai’ al murabahah memberi banyak manfaat pada bank syari’ah salah satunya adalah adanya keuntungan yang muncul dari selisih harga beli dari penjual dengan harga jual kepada nasabah. Selain itu sistem bai’ al murabahah juga sangat sederhana hal tersebut memudahkan penanganan administrasinya di bank syari’ah.
Selain manfaat diatas murabahah juga memiliki kemungkinan resiko yang harus diantisipasi antara lain :
1.        Default atau kelalaian, nasabah sengaja tidak membayar angsuran.
2.        Penolakan nasabah yaitu barang yang dikirim bisa saja ditolak oleh nasabah karena berbagai sebab. Bisa jadi karena rusak dalam perjalanan sehingga nasabah tidak mau menerimanya, karena itu sebaiknya dilindungi dengan asuransi. Kemungkinan lain karena nasabah merasa spesifikasi barang tersebut berbeda dengan barang yang dipesan. Bila bank telah menandatangani kontrak pembelian dengan penjual, barang tersebut akan menjadi milik bank. Dengan demikian, bank mempunyai resiko untuk menjualnya pada pihak lain.[32]         

6.         Aplikasi Murabahah Dalam Perbankan Syari’ah
Perbankan Syari’ah di Indonesia banyak yang menggunakan al-murabahah secara berkelanjutan seperti untuk modal kerja, padahal sebenarnya murabahah adalah suatu kontrak jangka pendek dengan sekali akad. secara umum, aplikasi perbankan dari ba’i al-murabahah dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut :




Gambar III.1
Skema Ba’i Al-Murabahah
3.  Supplier Barang
Bank
Nasabah
Supplier
Penjual
1.      Negosiasi
Persyaratan
2.      Akad Jual Beli
6. Bayar
4.  Kirim
3.  Terima Barang                          dan Dokumen
 
                       








Sumber : Muhammad Syafi’i Antonio, 2007, h. 107

Skema diatas dapat dijelaskan bahwa Nasabah dan Bank melakukan negosiasi atas barang yang akan dibeli atau dipesan dan disana terjadi akad jual beli antara Bank dengan Nasabah, Bank juga langsung menyebutkan atas keuntungan (margin) yang akan diambilnya. Bank membeli barang yang sudah dipesan oleh nasabah kepada sipenjual atau pembuat barang dan bank menyuruh sipenjual mengirimkan barang kepada nasabah yang memesan barang. Dan nasabah menerima barang serta dokumen-dokumen yang akan dibayarkan kepada pihak Bank.
Dengan demikian telah terjadi transaksi murabahah, dari teknis murabahah merupakan akad penyediaan barang  berdasarkan akad jual beli, dimana penjual (Bank) menyerahkan barang yang dibutuhkan pembeli (nasabah) dengan tambahan keuntungan yang telah disepakati pada saat akad terjadi.[33]   

B.    

Fish