Loading...

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Selamat Datang di Blog Muhammad Iwad

Rabu, 06 April 2016

Future Edge

Future Edge

Salah satu tantangan terbesar bagi dunia pendidikan adalah bagaimana mendidik anak kita untuk bisa menjadi unggul di jaman yang kita belum tahu kondisinya sekian puluh tahun yang akan datang. Teknologi apa yang ada saat itu ?, pekerjaan jenis baru seperti apa yang akan ada dan yang akan menghilang ?, bagaimana kondisi lingkungan mereka nanti ? dlsb.dlsb. Di dunia startup, kita dilatih untuk membayangkan hidup di masa depan ini. Bagi yang bisa memvisualisasikannya dengan sangat jelas dan menyusun langkah menyongsong kedatangannya – itulah para entrepreneur yang visioner.

Inilah jaman dimana para perencana masa depan yang visioner akan memperoleh tempat terbaiknya. Mereka bukan pemimpi yang hanya bisa menggagas ide, tetapi mereka merintis jalan untuk bener-bener meng-implementasikannya.

Ide itu murah, tetapi yang mahal adalah ide yang diimplementasikan di lapangan dan berevolusi bersamaan dengan waktu. Bentuk akhirnya bisa jadi sangat berbeda dengan yang kita bayangkan, tetapi perjalanan menuju kesana tidak ujug-ujug.

Saat ini misalnya kami sedang bereksperimen dengan apa yang kami sebut Life In The Future, di Startup Center Indonesia – Depok. Apa yang kami bisa visualisasikan dengan sangat jelas untuk masa depan saat itu ? berikut diantaranya.

Pastinya penduduk dunia terus bertambah, sedangkan dipastikan juga luas lahan yang tersedia di muka bumi tidak bertambah. Yang masih bersifat kemungkinan adalah produktifitas lahan untuk pertanian, bisa naik atau bahkan juga bisa sebaliknya turun.

Melihat kondisi lahan-lahan pertanian yang ada di negeri ini selama 70 tahun terakhir, kami cenderung berpendapat bahwa produktifitas lahan pertanian kita akan turun – kecuali ada langkah-langkah baru yang luar biasa. Bila sesuatu yang luar biasa ini tidak ada yang menempuhnya, maka akan ada problem besar di negeri ini di bidang pangan – dan juga sangat mungkin problem yang sama ada di belahan dunia lain.

Dimana ada problem besar, disitu ada peluang besar – when there is pain, there is an opportunity. Dari exercise Life In The Future inilah kemudian lahir project iGrowMy Own Food yang video documenter singkatnya disaksikan oleh lebih dari 26,000 orang sepekan terakhir, Anda bisa saksikan disini.

Dengan konsep pendekatan yang sama kita membayangkan krisis di dunia pendidikan– maka lahirlah iKuttab. Kita membayangkan persaingan yang sangat ketat di dunia pekerjaan, sehingga diperlukan skills yang unggul – yang adaptive terhadap perkembangan jaman yang berubah dengan sangat cepat – maka lahir pula project SkillsWhiz.

Tentu kami tidak berpretensi bahwa iGrow , iKuttab maupun Skillswhiz adalah jawaban final untuk masa depan yang kita belum tahu itu. Itu baru apa yang disebut Minimum Viable Product (MVP), dan MVP is not a product – It’s a process.

Lantas akan seperti apa product akhirnya ? kita juga belum tahu, tetapi prosesnya-lah yang kami mulai. Ibarat menanam pohon, kami menanam benih – setelah itu akan sebesar apa pohon itu , berbuah banyak-kah ? dst – kita hanya bisa buat rencana untuk menyirami dan merawatnya.

Dengan apa menyirami dan merawat ide-ide startups ? dengan konsep yang kita sebut IMAO (Improvise, Modify, Adapt and Overcome). Ketika MVP kita menemukan ternyata pasar bereaksi berbeda dengan yang kita duga, maka kita harus bisa berimprovisasi.

Ketika produk awal kita yang ternyata bermasalah, maka kita akan modify. Ketika kita menghadapi environment yang tidak bisa kita pengaruhi, maka kita ber-adaptasi. Ketika kita menghadapi tembok atau masalah besar, maka kita harus lompati atau atasi (overcome).

Di dunia barat orang bisa membuat film science fiction untuk menggambarkan bahwa yang akan unggul dalam peperangan masa depan adalah yang bisa menempuh perjalanan lintas waktu – mencuri informasi masa depan – untuk dapat memenangkan peperangan. Bisa disaksikan diantaranya adalah film Edge of Tomorrow-nya Tom Cruise.

Di kita, meskipun kita tidak tahu persis esuk hari akan seperti apa – berita-berita dari masa depan itu berdatangan setiap waktu asal kita mau membacanya saja. Bahwa akan ada kerusakan di darat dan di laut yang kita saksikan saat ini, beritanya sudah turun lebih dari 1,400 tahun lalu (QS 30:41).


Jangankan berita masa depan untuk dunia, berita setelah bumi ini tidak ada lagi-pun kita diberitahu – kita akan hidup dimana, seperti apa – yang semuanya tergantung dari apa yang kita lakukan saat ini. Maka ilmu masa depan yang akan menjadi keunggulan kita itu – Future Edge – harus kita kuasai. InsyaAllah.

Kamis, 31 Maret 2016

Kisah seorang guru bijak

kisah seorang guru bijak
Pada suatu hari ada seorang guru bijak yang memiliki 3 murid terbaik, dia memberikan sebuah pertanyaan kepada muridnya. Pertanyaan tersebut merupakan sebuah pertanyaan yang amat penting bagi ketiga murid tersebut, karena jawaban dari pertanyaan tersebut menentukan siapa yang kelak tepat untuk menggantikan sang guru. Berikut ini Kisah Seorang Guru Bijak dan 3 Muridnya!

Kisah seorang guru bijak

Disebuah desa, tinggal seorang guru bijak yang sudah tua, Dia mencari seseorang yang dapat menggantikannya untuk dapat meneruskan menjadi seorang guru untuk mengajari kebaikan bagi murid muridnya. Ada 3 murid terbaik yang dipilih untuk menjadi calon penggantinya.
Dalam memilih siapa yang pantas untuk menggantikan guru bijak tersebut, Ke 3 murid tersebut di beri tantangan oleh sang guru untuk menjawab sebuah pertanyaan. Pertanyaan tersebut ialah “Apakah makna kekayaan bagi manusia?”
Untuk menjawab pertanyaan itu, sang guru kemudian mempersilahkan ke 3 muridnya tersebut untuk pergi berkelana mencari jawaban dari pertanyaan tersebut.
Setelah 3 tahun pergi merantau naik turun gunung melewati kampung ke kampung dan juga dari kota ke kota untuk mencari sebuah jawaban yang diberikan oleh gurunya, ke 3 murid akhirnya kembali. Karena kini sudah tiba bagi para murid tersebut untuk menjawab pertanyaan dari sang guru.
Kemudian sang guru mempersilakan kepada muridnya satu persatu untuk memberikan jawaban dari pertanyaan yang sudah diberikan.

Startup : Dari Mana Datangnya Ide Besar

Startup : Dari Mana Datangnya Ide Besar

Sejak sekolah dahulu kita sering diajari hal yang seolah mudah padahal  kenyataannya tidak demikian, hal ini adalah tentang lahirnya sebuah ide. Newton tidak kejatuhan apel terus ujug-ujug punya ide tentang teori grafitasi, Archimedes tidak sedang mandi di bak mandi ketika menggagas hukum Archimedes, dan Thomas Edison-pun tidak menemukan bolam lampu. Semuanya hasil kerja keras berpuluh tahun, sebelum kita akhirnya mengenal karya-karya mereka.

Senin, 22 Februari 2016

PENGANTAR MATERI DISTRIBUSI PANDANGAN ISLAM DALAM ILMU KEKINIAN

Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah Swt kepada sang khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. Salah satu pemanfaatan yang telah diberikan kepada sang khalifah adalah kegiatan ekonomi. Islam mengajarkan kepada sang khalifah untuk memakai dasar yang benar agar mendapatkan keridhaan dari Allah sang pencipta. Dasar yang benar itu merupakan sumber hukum yang telah ditetapkan dan harus diikuti oleh penganut Islam[1].
Islam memandang peran materi (harta) dalam kehidupan dunia haruslah mensejahterakan kehidupn umat manusia. Tidak untuk sekolompok orang saja yang dapat mengakibatkan terjadinya kesenjangan pendapatan yang lebar dan pada akhirnya menyebabkan kemiskinan. Konsep kepemilikan harta perorangan dalam Islam memiliki fungsi sosial dan berkewajiban melakukan redistribusi pemilikan pribadi melalui zakat, sedekah, membayar pajak negara, menghindarkan pemborosan (tidak menghalalkan waste of social resources), mengharamkan menimbun harta serta melarang konsentrasi pemilikan[2].
1
 
Allah Swt menurunkan petunjuk untuk manusia tidak hanya sekedar untuk kepentingan vertikal saja, melainkan hubungan secara horizontal juga di atur seperti yang berkenaan dengan distribusi. Allah Swt berfirman dalam QS. al-Hasyr ayat 7, sebagai berikut:
!$¨B uä!$sùr& ª!$# 4n?tã ¾Ï&Î!qßu ô`ÏB È@÷dr& 3tà)ø9$# ¬Tsù ÉAqߧ=Ï9ur Ï%Î!ur 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Èûøó$#ur È@Î6¡¡9$# ös1 Ÿw tbqä3tƒ P's!rߊ tû÷üt/ Ïä!$uŠÏYøîF{$# öNä3ZÏB 4 !$tBur ãNä39s?#uä ãAqߧ9$# çnräãsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ

Artinya       : Apa saja harta rampasan (fay’) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

Ayat di atas menjelaskan bahwasanya haruslah ada pendistribusian yang adil sebagaimana potongan ayatnya sebagai berikut:
ös1 Ÿw tbqä3tƒ P's!rߊ tû÷üt/ Ïä!$uŠÏYøîF{$# öNä3ZÏB 4
 Sehingga harta yang ada tidak beredar pada orang-orang tertentu saja. Sebagai seorang muslim sejati hendaknya mengikuti aturan yang Allah tetapkan seperti pendistribusian, agar terciptanya keharmonisan antara sesama umat manusia.
Penjelasan tentang hal ini dapat dikuatkan dengan hadits Rasulullah Saw, yang berbunyi:
حَدَّثنا مُحَمد بن عثمان بن كرامة ، حَدَّثنا حسين بن علي الجعفي ، حَدَّثنا سفيان بن عُيَينة عن علي بن زيد ، عَن أَنَس فيما أعلم : أن النَّبِيّ صَلَّى الله عَلَيه وَسَلَّم قال : ليس المؤمن الذي يبيت شبعان وجاره طاو.(رواه احمد).
 Artinya : Sesungguhnya Nabi Saw berkata: Bukanlah seorang mukmin yang sempurna, dimana ia tidur dalam keadaan kenyang sedang tetangganya kelaparan” [3]. (HR. Ahmad)

Hadits ini menjelaskan bahwa Islam tidak meridhai ada orang-orang yang dibiarkan kekurangan ditengah banyaknya orang yang berada disekitarnya serba berkecukupan. Konsep ekonomi kapitalis tidak meletakkan permasalahan mendasar ekonomi pada distribusi, mereka berasumsi bahwa persoalan distribusi akan berjalan atau efektif dengan sendirinya jika mekanisme pasar dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dengan adanya kebebasan dalam melakukan aktifitas ekonomi, para pelaku ekonomi akan dapat mengoptimalkan daya kreatifitasnya dalam berproduksi dan mengkonsumsi sebanyak mungkin hasil produksi, yang selama ini dianggap suatu hal yang jelas baik[4].
Konsep keadilan dalam ekonomi sosialis adalah kekuasaan tertinggi di pegang oleh negara, semua orang mendapatkan fasilitas yang sama, tidak ada lagi harta yang beredar diantara orang-orang tertentu saja karena semuanya dimiliki oleh negara. Orang yang bekerja lebih banyak dengan orang yang kerja sekedarnya saja mendapatkan hasil yang sama. Maka dari itu sistem ekonomi sosialis juga tidak bisa membawa kepada distribusi yang adil.
Persoalan distribusi merupakan salah satu isu ekonomi yang kontroversial dan para ekonom pun berbeda pendapat tentang hal itu. Menurut Bronfenbbrener bahwa para ekonom terpola pada dua pandangan dalam melihat persoalan distribusi. Kelompok pertama menyatakan bahwa distribusi pendapatan kekayaan dan kekuasaan adalah persoalan ekonomi di luar persolan “kelangkaan” dan “efesiensi”. Kelompok kedua secara ekstrem menyatakan bahwa persoalan distribusi adalah suatu problema yang tidak menarik (some see distribution as a totally uninteresting)[5].
Islam sebagai sumber nilai yang tidak bisa di pisahkan dari segala aspek termasuk aspek distribusi. Oleh sebab itu, pendistribusian haruslah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Bahkan menurut ekonom muslim Muhammad Baqir Al-Shadr berpendapat bahwa persoalan mendasar dalam ekonomi adalah problem distribusi. Karena dalam perekonomian banyak berkaitan dan yang sering menjadi permasalahan adalah masalah distribusi.
Para ekonom konvensional berpendapat bahwa problem dasar dari ekonomi, yaitu Kebutahan manusia itu tidak terbatas dan Sarana pemenuhannya terbatas. Dari dua rumusan problem ini, jika akan diperas secara lebih singkat dan lebih sederhana lagi, akan tetap kembali pada kelangkaan (scarcity) [6].
Pendapat ekonom konvensional di atas sangat bertentangan dengan pendapat Muhammad Baqir Al-Shadr karena Islam tidak mengenal adanya sumber daya yang terbatas karena segala sesuatunya sudah terukur dengan sempurna, sebenarnya Allah telah memberikan sumber daya yang cukup bagi seluruh manusia di dunia[7]. Sebagaimana firman Allah Swt  di dalam QS. Ibrahim: 34, yaitu:
zNä39s?#uäur `ÏiB Èe@à2 $tB çnqßJçGø9r'y 4 bÎ)ur (#rãès? |MyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 žcÎ) z`»|¡SM}$# ×Pqè=sàs9 Ö$¤ÿŸ2 ÇÌÍÈ
Artinya       : Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

Ayat di atas menjelaskan dan menegaskan bahwa Allah telah merancang bumi ini secara equilibrium dan tidak sesuai jika kelangkaan menjadi problem dasar dalam ekonomi. Namun, yang menjadi problem adalah pendistribusian karena sebanyak apapun sarana pemenuhan kebutuhan jika tidak diikuti dengan pendistribusian yang adil tentu barang tersebut akan sulit didapatkan maka wajar saja jika yang kaya menjadi konglomerat dan yang miskin menjadi melarat.
Masalah ekonomi muncul karena adanya distribusi yang tidak merata dan adil sebagai akibat sistem ekonomi yang membolehkan eksploitasi pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah. Karena itu, masalah ekonomi muncul bukan karena sumber daya yang terbatas, tetapi karena keserakahan manusia yang tidak terbatas[8].
Peneliti tertarik dengan permasalahan ini karena distribusi menurut Muhammad Baqir Al-Shadr ini sangat menarik untuk diteliti karena menurutnya distribusilah yang menjadi problem dasar dalam ekonomi, ini kebalikan dari problem dasar dalam ekonomi konvensional. Sehingga nantinya mendapatkan hasil yang dapat memberikan solusi yang relevan terhadap perekonomian modern serta tidak hanya mengikuti ilmu ekonomi yang berlaku dan populer saat ini sehingga nantinya ekonomi Islam dapat muncul sebagai rahmatan lil ‘alamin di dunia ini.


[1] Mawardi, Ekonomi Islam, (Pekanbaru: Alaf Riau, 2007), h. 76
[2] Sri-Edi Swasono, Kebersamaan dan Asas Kekeluargaan, (Jakarta: UNJ Press, 2004), h. 248-249
[3] Imam Ahmad Ibn Hambal, Musnad Imam Ahmad Ibnu Hambal, (Kairo: Muassah al-Qurthubah, tth), Juz I, h. 54
[4] M. Umer Chapra, Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjauan Islam, alih bahasa oleh Ikhwan Abidin B, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), E.d, h. 15-21

[5] Munawar Iqbal, Distributif Justice and Need Fullfillment in an Islamic Economy, (Leicester: UK. The Islamic Foundation and Islamabad IIIE International Islamic University, 1986), h. 11
[6] Dwi Candro Triono, Ekonomi Islam Madzhab Hamfara, (tt: Irtikaz, 2012), jilid 1, cet ke-2, h. 164
[7] Adiwarman A. Karim, Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2012), cet ke-5, h. 30
[8] Ibid, h. 31
Ada kesalahan di dalam gadget ini