Gelombang PHK Di Negeri Agraris ?

Gelombang PHK Di Negeri Agraris ?

Isu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kini tengah menjadi perdebatan antara unsur pekerja dan unsur pemerintah. Unsur pekerja wajar mengkawatirkan adanya gelombang PHK dan bahkan bisa mulai menghitungnya dari sejumlah besar perusahaan yang diduga akan melakukan PHK dalam beberapa bulan kedepan. Unsur pemerintah nampak menolak isu adanya gelombang PHK ini dengan berbagai alasan yang dimilikinya. Tetapi lebih penting dari perdebatan ini semua,  adakah upaya untuk mencegah atau setidaknya mengantisipasi gelombang PHK ini  ?

Pertama yang perlu diketahui secara objective oleh semua pihak yang terkait adalah apakah ancaman PHK itu real, atau sekedar kekhawatiran yang tidak beralasan ?

Saya melihat setidaknya ada dua hal yang menjadikan ancaman gelombang PHK itu real. Pertama adalah harga minyak yang jatuh, ini akan mengancam kelangsungan ketersediaan lapangan pekerjaan di sektor migas dan industri lain yang menjadi substitusi dari produk-produk berbasis migas.

Ini bukan hanya terjadi di Indonesia, industri perminyakan di seluruh dunia mengalami ancaman ini. Menurut analisa comprehensive yang dilakukan oleh konsultan di bidang ini Graves & Co, tahun 2015 lalu saja telah terjadi sekurangnya PHK sebanya 258,000 tenaga kerja di seluruh industri perminyakan dunia. Tahun ini diperkirakan akan terus berlanjut karena harga minyak yang masih terus di rezim yang rendah.

Selain ancaman PHK di industri perminyakan, kita yang di Indonesia juga tidak bisa menganggap enteng ancaman PHK yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung dari berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN sejak awal tahun ini.

Tidak mengherankan bila (seolah-olah) tiba-tiba saja sejumlah industri merencanakan relokasi pabrik ke negeri lain yang lebih menarik dari berbagai sisinya, tanpa harus kehilangan pasar besar di Indonesia yang memiliki lebih dari 40% pasar consumer ASEAN.

Akibat dari MEA ini tiba-tiba saja tenaga kerja kita harus secara langsung mampu bersaing dengan tenaga kerja di bidang sejenis dari seluruh negara ASEAN, yang sebenarnya demikian pula para pengusahanya. Bedanya adalah bagi para pengusaha – sebagian mereka – bisa dengan mudah memindahkan unit usahanya ke negara ASEAN lainnya, sementara tidak demikian  dengan para pekerja.

Jadi ancaman MEA bagi para pengusaha tidak separah ancamannya terhadap para pekerja. Bahkan bagi sebagian pengusaha, MEA menjadi –peluang baru untuk memindahkan unit usaha atau pabriknya ke negeri-negeri yang paling kondusif untuk kelancaran usahanya.

Tingkat threat atau tekanan yang berbeda ini lebih mudah digambarkan dengan ilustrasi kursi patah kaki. Ini berdasarkan rumus fisika P=F/A (P=Tekanan, F=Gaya, A=Luas Penampang). Ketika empat kaki kursi semua bersama menyangga beban gaya, keempat kakinya stabil dan beban terdistribusi merata.

Ketika salah satunya patah, maka beban ke kursi yang tidak patah menjadi jauh lebih besar – itupun kalau kursi masih bisa bertahan untuk tidak roboh !

Tiga kaki kursi yang tidak patah tersebut adalah posisi yang dihadapi para pekerja, sedang kaki yang patah adalah posisi pengusaha industri tertentu yang dengan mudah hengkang ke negeri lainnya tanpa harus kehilangan pasarnya di negeri ini.

Walhasil dengan dua hal tersebut di atas saja – rendahnya harga minyak dunia dan berlakunya MEA sejak awal tahun ini – saya melihat ancaman gelombang PHK itu real dan harus diantisipasi oleh seluruh pihak yang berkompeten.

Saya tentu tidak berpretensi bisa memberikan seluruh solusi untuk masalah besar tersebut, yang saya tawarkan hanya salah satu saja dari sekian banyak kemungkinan solusinya.

Yang saya tawarkan adalah me-redefine jati diri negeri ini,  ingin menjadi seperti apa negeri kita ini ? Bila definisi ini jelas dan dibangun berdasarkan kekuatan yang memang ada di negeri ini – maka dengan itulah kita akan mampu bersaing secara global dan mampu mempertahankan pekerjaan dan kemakmuran di negeri ini.

Redefinisi ini sebenarnya juga tidak susah-susah amat karena sejak kecil kita sudah banyak belajar bahwa negeri ini negeri agraris, negeri katulistiwa, negeri bahari dlsb. Mengapa tidak menguatkan jati diri kita ini saja ?

Ambil misalnya kita kuatkan jati diri kita sebagai negeri agraris bahari, maka dengan dua kekuatan biodiversity yang ada di darat dan laut kita – kita pasti bisa unggul kalau hanya bersaing di area MEA saja. Industri berbasis pertanian dan kelautan tidak serta merta bisa dipindahkan oleh para pengusahanya ke negeri lain karena sumber daya utamanya ada di negeri ini.

Negeri yang keunggulannya dibangun atas dasar kekuatan pertanian juga sama sekali tidak bisa dianggap enteng, karena berbasis pertanian inilah semua kebutuhan pangan, sandang dan bahkan papan kita dipenuhi. Artinya industri inilah yang bisa menjawab kebutuhan utama penduduk suatu negeri.

Lebih jauh lagi, negeri yang baik menurut definisi Al-Qur’an-pun adalah negeri kebun yang penduduknya makan cukup dari kebun-kebun tersebut – negeri yang disebut Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur.

Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS 34:15)

Potensi untuk menjadi negeri yang baik itu ada di sekitar kita, tetapi malah kita sibuk mencari keunggulan kesana-kemari yang tidak kunjung ketemu dan berbuntut pada ancaman gelombang PHK di era MEA dan rezim harga minyak rendah dunia tersebut di atas.

Bila pertanian kita selama ini masih dilihat sebelah mata bahkan dunia perbankan-pun enggan mengucurkan dananya, bila masyarakat petani kita masih manjadi bagian dari kelompok masyarakat yang berdaya beli rendah – bisa jadi itu semua karena kita kurang meng-elaborasi peluangnya saja.

Tiga tahun lalu saya menulis “Petani Yang Mengendarai Lamborghini” memuat prediksi salah satu guru investasi dunia Jim Rogers, bahwa tidak berapa lama lagi yang mampu membeli mobil-mobil sekelas Lamborghini adalah para petani. Prediksi ini dibuat karena orang sekelas Jim Rogers bisa melihat peluang di dunia pertanian tersebut.

Saya-pun bisa melihat peluang yang sama, bahkan lebih dari itu saya mengenal secara pribadi beberapa tokoh pertanian yang sudah berada di kelas yang diprediksi oleh Jim Rogers tersebut. Mereka tidak perlu membeli Lamborghini meskipun mereka mampu melakukannya. Dan salah satu yang saya kenal tersebut exactly mantan korban perampingan industri perminyakan tahun 1990-an !

Peluang-peluang semacam inilah yang antara lain akan dielaborasi dalam workshop dua hari Integrated Organic Farming di Tawangmangu bulan depan. Workshop semacam ini bisa menjadi persiapan terbaik bagi para perusahaan yang merencanakan mem-PHK karyawannya, atau para karyawan sendiri yang belum tahu what to do menghadapi ancaman PHK.

Selain untuk para pemula di dunia pertanian, workshop ini juga untuk para petani atau pengusaha pertanian kawakan sekalipun yang stuck dengan berbagai kendala yang dihadapi saat ini seperti kendala pasar, kendala modal dlsb.

Maka inilah kontribusi kami dalam mengantisipasi gelombang PHK dan ancaman ekonomi lainnya, sekaligus membaliknya menjadi peluang untuk membangun keunggulan negeri yang dari dulu by default sudah kita sebut sebagai negeri agraris ini. Insyaallah.

Komentar