9 Pelajaran Dari Pekerjaan Terbaik

9 Pelajaran Dari Pekerjaan Terbaik

Bila pekerjaan terbaik kedua setelah berjihad itu adalah menggembala, mestinya ini mengundang pertanyaan atau keingin tahuan kita, ada pelajaran apa sebenarnya dalam pekerjaan ini ? dan mengapa sampai seluruh nabi melakukannya ?  Maka tanpa terasa sudah 5 tahun berlalu sejak kami mulai bergelut dengan dunia ternak dan akhirnya menemukan kembali konsep menggembala - yang nampaknya memang harus dihidup-hidupkan kembali jenis pekerjaan yang luar biasa ini. Setidaknya kami menemukan ada 9 pelajaran yang bisa dipetik, yang tidak akan mudah ditemukan di pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Sembilan pelajaran tersebut adalah sebagai berikut :



1.     Communication

Si penggembala tidak bisa berkomunikasi verbal dengan domba-domba gembalaannya, tetapi dengan berbagai cara dia harus bisa menggiring domba-dombanya dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia harus bisa memberi tahu batas mana yang boleh dilewati dan mana yang tidak, mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak.

Ketika sore hari domba-domba telah kenyang, domba-domba tidak bisa memberitahu si gembala bahwa mereka telah kenyang – si gembalalah yang harus tahu sendiri bahwa gembalaannya telah cukup makan hari itu dan waktunya diajak pulang.

Proses berangkat pagi ke daerah gembalaannya dan pulang di sore hari ini harus dilakukan dengan tidak memaksa domba-domba tersebut, mereka harus berjalan beriringan dengan suka rela. Proses perjalanan yang indah ini bahkan dipuji Allah dalam Al-Qur’an : “Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.” (QS 16:6)

Untuk pelajaran komunikasi dari gembala ini sudah kami buatkan video klipnya sendiri dan dapat disaksikan di http://www.youtube.com/watch?v=3YPis-1Ukjg.


2.     Empathy

Komunikasi non-verbal dengan domba-domba yang tidak bisa bicara, hanya bisa dilakukan secara efektif bila si gembala ‘bisa merasakan’ apa yang dirasakan oleh domba-domba gembalaannya.

Di kandang kami ada sekitar 800-an domba berbagai jenis dan kambing. Dalam jarak sekitar 200 m dari kandang domba tersebut – terhalang pohon dan bangunan sekalipun – saya bisa tahu apakah domba dan kambing kita tersebut ada yang lapar, ada yang sakit  atau ada yang mengganggunya.

Dari mana saya bisa tahu ? dari nada suaranya ! bila hening tidak ada suara sedikit-pun dari mereka – berarti semua mereka dalam kondisi kenyang, sehat dan tidak ada yang mengganggunya .

Bayangkan ini ketika Anda menjadi panitia qurban dan mengelola beberapa puluh ekor domba saja, betapa berisiknya ! Mengapa ?  Pertama bisa jadi karena makanannya tidak pas, tetapi yang jelas karena hewan-hewan qurban yang baru didatangkan dari tempat lain – mereka tidak merasa comfortable di lokasinya yang baru. Banyaknya orang atau anak-anak yang melihatnya, membuat mereka merasa terancam.

Lantas bagaimana membedakan suara domba yang lapar, yang sakit dan yang merasa tidak aman ? Ini bagian yang sulit diajarkan seperti dalam video klip tersebut di atas, harus dirasakan dan dilatihkan ke pendengaran kita !


3.     Leadership

Domba adalah hewan sosial yang akan selalu berkelompok dengan sesamanya setiap saat memungkinkan. Dengan mudah mereka mengetahui pemimpinnya tanpa susah-susah  Pemilu !

Kita akan mudah sekali mengarahkan domba-domba tersebut dalam proses penggembalaannya, bila kita juga bisa tahu siapa pemimpin para domba tersebut. Bagaimana kita bisa mengetahuinya ?

Cara yang relatif mudah – tetapi tetap harus dilatih  - adalah dengan mengamati gerombolan domba yang lagi merumput. Seluruh domba umumnya akan merumput dengan lahap – sambil menjaga visual contact dengan sekitar 5 domba lainnya. Sejauh tidak ada yang mengganggunya mereka akan  terus asyik merumput dengan tenang dalam formasi ini.

Tetapi di antara mereka ada domba yang nampak tidak tenang dalam merumput, sekali-kali mengangkat kepalanya dan menoleh ke kanan dan ke kiri – seolah sedang mempelajari lingkungannya. Inilah domba pemimpin itu ! dia tidak makan kenyang meskipun seluruh domba lain dalam kawanannya makan dengan kenyang.

Karena perilakunya yang sebentar-sebentar mengangkat kepala tersebut, domba pemimpin yang paling dahulu tahu – bila ada bahaya yang mendatanginya, dia akan berlari dan yang lain mengikutinya – termasuk si penggembalanya.


4.     Wisdom

Domba-domba yang digembala membangun kearifannya sendiri. Dia makan rumput dan hijauan lainnya dari berbagai jenis, sebagian untuk membuatnya kenyang, sebagian untuk membuat rasanya enak, sebagian lagi untuk obat dan sebagiannya untuk diambil airnya.

Domba tidak makan rumput dengan mencabut akarnya – seenak apapun rumput tersebut. Seolah mereka tahu bila sampai tercabut akarnya akan mengganggu kelangsungan makanan mereka berikutnya.

Meskipun tidak ada syariat yang mengatur domba-domba dalam gembalaan ini, juga tanpa catatan sipil yang menjadi database mereka – domba-domba tersebut tidak mengawini keturunannya sendiri. Seolah mereka juga tahu, bila ini mereka lakukan akan merusak keturunan berikutnya.

Penggembala yang paham kearifan para domba ini, dia akan tahu persis apa yang  boleh dilakukan dan apa yang tidak.


5.     Patient


Menggembala menuntut dan melatih kesabaran. Seorang penggembala tidak boleh memaksakan kehendaknya dengan mendorong dari belakang domba-domba tersebut untuk berjalan ke arah yang dia inginkan.

Cara mengarahkan domba adalah dengan me-lead  dan bukan memberi instruksi. Dengan mengetahui pemimpinnya kemudian menggiring lebih dahulu pemimpinnya, maka gerombolan domba akan mengikuti kearah mana sang pemimpin berjalan.

Penggembala domba harus belajar sabar untuk memahami apa maunya domba-domba dalam gembalaannya, dan bukan sebaliknya memaksa domba-domba tersebut mengikuti kemauan si penggembala.  Fungsi penggembala adalah mengarahkan dan melayani dengan kesabaran, bukan memerintah ! Karena domba-domba tidak akan paham dengan perintahnya.


6.     Insight

Penggembala harus berwawasan lingkungan, dia melihat kedepan untuk bisa tahu lahan gembalaan mana yang siap untuk menggembala domba berikutnya. Dia harus juga menoleh kebelakang untuk tahu kapan lahan-lahan gembalaan yang telah dilaluinya akan kembali tumbuh rumput untuk siap digembala lagi dalam putaran berikutnya.

Dia melihat ke kanan untuk mengetahui tanaman mana yang boleh dimakan dombanya, dan melihat ke kiri pula untuk mengtahui tanaman-tanaman mana yang tidak boleh dimakan.

Dia melihat kebawah untuk mengetahui apakah rumput-rumput yang sedang dimakan oleh gembalaannya memadai. Dia juga melihat ke atas untuk mengetahui perubahan cuaca dan musim. Dengan wawasan inilah dia akan bisa menjaga keamanan, kesehatan dan kesejahteraan gembalaannya.


7.     Endurance

Tidak semua lahan gembalaan dipenuhi hijauan untuk ternak gembalaannya, dan keteduhan untuk sang  penggembala sendiri berteduh. Penggembala-penggembala di Sudan, Somalia dan Djibouti – tiga negara pengekspor domba tahun lalu ke Saudi Arabia adalah contoh lahan gembalaan yang sangat menuntut daya tahan para domba dan penggembalanya.

Alhamdulillah lahan-lahan gembalaan kita tidak se-ekstrem mereka, kita menggembala diantara pepohonan dan rumput-rumput yang hijau. Menggembala bagi kita adalah seperti piknik bagi saudara-saudara kita di tiga negara tersebut di atas.

Meskipun demikian, bagi yang belum terbiasa tetap harus bisa membiasakan diri bekerja dalam lingkungan yang nyaris tanpa teman bicara kecuali domba-domba dalam gembalaannya tersebut. Dibutuhkan daya tahan dan passion sendiri untuk ini.


8.     Adherence

Domba-domba gembalaan tersebut umumnya memiliki kesetiaan dan ketaatan baik kepada pemimpinnya maupun kepada arahan sang penggembala. Bila dilarang makan tanaman tertentu, si penggembala cukup memberi aba-aba dengan tongkatnya – domba-domba tersebut sudah akan paham maksudnya.

Sangat jarang domba yang sampai perlu dipukul atau dihukum karena membandel dengan arahan si penggembala. Si pengembala umumnya membawa tongkat tetapi bukan untuk memukul, untuk domba sekedar tahu saja bahwa ada tongkat untuk memukul  - tetapi tidak harus digunakan !

Tongkat si penggembala – seperti tongkatnya Nabi Musa Alaihi Salam dalam dialog sebagai berikut : “Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya"” (QS 20 :18).

Tongkat serba guna Nabi Musa Alaihi Salam tersebut di kemudian hari juga berguna untuk melawan tukang sihir, memukul batu untuk memancarkan 12 mata air dan yang sangat fenomenal adalah untuk membelah lautan.

Tongkat serbaguna ini adalah tongkat ketaatan, bukan tongkat untuk menghukum !


9.     Jama’ah

Seperkasa apapun domba jantan, dia tidak akan mengembara sendirian. Bahkan ketika sedang asyik makan-pun mereka harus dalam visual contact dengan sekelompok domba lain.

Sifat insting domba yang sudah cenderung menggerombol ini akan memudahkan si penggembala mengelola domba-domba dalam gembalaannya. Bisa Anda bayangkan bila domba-domba tersebut memiliki kemauan sendiri-sendiri, akan betapa sulitnya domba-domba ini digembalakan.

Seandainya saja umat Islam yang sangat banyak di negeri ini tahu betul siapa pemimpin sejatinya, kemudian semuanya siap bermakmum di belakangnya – bukan mencari jalan sendiri-sendiri – maka akan betapa besar kekuatan umat ini.


Begitu banyaknya pelajaran dari pekerjaan terbaik – menggembala -  ini  yang bisa kita tularkan untuk berbagai pekerjaan dan urusan lainnya, maka kami berminat untuk mulai membuka kelas outbound menggembala di lahan-lahan gembalaan kami. Outbound yang bisa diikuti oleh anak-anak TK sampai eksekutif perusahaan dan calon pemimpin negeri.

Kita semua perlu napak tilas apa yang dilakukan oleh seluruh nabi-nabi agar  kita bisa belajar dari pelajaran yang tidak bisa diajarkan ini - pelajaran yang harus ditempuh dengan mengalaminya sendiri. InsyaAllah.

Komentar